Bitung

BKK Bitung Imbau Warga Waspadai Hantavirus, Rivo Pandensolang: Jangan Panik, Tapi Tetap Waspada

383
×

BKK Bitung Imbau Warga Waspadai Hantavirus, Rivo Pandensolang: Jangan Panik, Tapi Tetap Waspada

Sebarkan artikel ini

ESN, BITUNG — Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kota Bitung, Rivo Pandensolang, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Hantavirus, menyusul ramainya pembahasan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang dilaporkan menyebabkan kematian di kapal pesiar mancanegara.

Menurut Rivo, masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus memahami pola penularan virus tersebut agar dapat melakukan langkah pencegahan sejak dini.

“Hantavirus bukan virus baru. Penularannya umumnya terjadi melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk dari kotoran, air liur, maupun debu yang telah terkontaminasi,” kata Rivo, Rabu (13/5/2026).

Ia menjelaskan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang menyebut risiko penyebaran global virus tersebut masih tergolong rendah. Meski demikian, kewaspadaan tetap penting dilakukan, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Rivo mengatakan, di Indonesia kasus Hantavirus yang ditemukan sejauh ini lebih banyak merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, terdapat 23 kasus terkonfirmasi yang tersebar di sembilan provinsi.

Karena itu, BKK Bitung mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan sanitasi lingkungan, terutama di area yang rawan tikus seperti gudang, tempat penyimpanan makanan, pasar, hingga pelabuhan.

“Pastikan makanan disimpan dalam wadah tertutup rapat, tutup akses masuk tikus ke rumah atau tempat usaha, dan saat membersihkan area berdebu gunakan kain pel basah agar partikel yang berpotensi terkontaminasi tidak beterbangan,” ujarnya.

Ia juga meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, atau gangguan pernapasan setelah beraktivitas di area yang rawan tikus.

“Deteksi dini penting agar penanganan medis bisa segera dilakukan. Prinsipnya, jangan abaikan gejala,” kata Rivo.

Example 120x600