Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Bitung

PELNI dan BUMN Bersinergi di Banda Neira, dari Bibit Pala hingga Pemeriksaan Mata

290
×

PELNI dan BUMN Bersinergi di Banda Neira, dari Bibit Pala hingga Pemeriksaan Mata

Sebarkan artikel ini

ESN, Bitung – PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Bank Mandiri Taspen, dan PT Pegadaian menggelar program sosial dan lingkungan di Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Kolaborasi empat badan usaha milik negara itu menyasar petani, pelajar, warga lanjut usia, hingga pengelolaan lingkungan.

Program yang diluncurkan pada Jumat, 4 September 2026, itu mencakup penanaman 500 bibit pala untuk 30 petani, pembangunan satu ruang belajar, dukungan pengelolaan sampah, serta pemeriksaan mata bagi 100 lansia.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PELNI, Triswahyu Herlina, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas dampak tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) melalui kolaborasi antar-BUMN.

“Kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen PELNI untuk terus hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Triswahyu, yang akrab disapa Ina.

Menurut dia, program TJSL tidak semestinya berhenti pada pemberian bantuan. Masyarakat harus dapat mengembangkan manfaat program dalam jangka panjang.

Banda Neira dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan potensi lokal. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pala, komoditas yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan ekonomi masyarakat Banda.

Sebanyak 500 bibit pala diserahkan kepada 30 petani. Program itu diharapkan tak hanya memperkuat penghijauan, tetapi juga meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat.

“Yang paling penting, masyarakat menjadi bagian utama dari keberlanjutan program tersebut,” ujar Ina.

Ia mengatakan keberhasilan program penanaman pala akan ditentukan oleh pemeliharaan setelah bibit ditanam. Karena itu, kegiatan tersebut tidak boleh berhenti sebagai seremoni penyerahan bibit.

“Kami berharap bibit pala yang ditanam bukan hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar dirawat hingga tumbuh dan memberikan manfaat ekonomi bagi para petani,” katanya.

Program penanaman pala tersebut dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 15 mengenai ekosistem daratan.

Kolaborasi BUMN itu juga menyentuh sektor pendidikan. Satu ruang belajar dibangun untuk mendukung kebutuhan anak-anak dan generasi muda Banda Neira terhadap fasilitas belajar yang lebih layak.

Sementara di sektor lingkungan, PELNI dan mitra BUMN memberikan dukungan terhadap pengelolaan sampah. Sebagai perusahaan pelayaran yang beroperasi di wilayah kepulauan, PELNI menilai persoalan sampah di kawasan pesisir tidak dapat dilepaskan dari upaya menjaga laut.

Pengelolaan sampah yang lebih baik diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan pesisir dan laut sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat. Program ini berkaitan dengan SDGs nomor 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta SDGs nomor 14 mengenai ekosistem laut.

Untuk sektor kesehatan, 100 warga lanjut usia mendapatkan pemeriksaan mata. Program tersebut ditujukan untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih.

“Kami ingin manfaat program TJSL benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” ujar Ina.

Kepala Cabang PELNI Bitung, Nurul Azhar, mengatakan kolaborasi antar-BUMN memungkinkan program sosial menjangkau sejumlah kebutuhan masyarakat sekaligus.

Menurut dia, kebutuhan masyarakat tidak berdiri sendiri. Persoalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan saling berkaitan.

“Sinergi BUMN seperti ini sangat penting karena kebutuhan masyarakat tidak hanya berada pada satu sektor,” kata Nurul.

Ia mengatakan pendekatan TJSL yang berkelanjutan menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai pihak yang ikut menjaga dan mengembangkan program.

Bagi PELNI, kata Nurul, keberadaan perusahaan di tengah masyarakat harus memberikan nilai tambah. Hal itu juga berkaitan dengan karakter perusahaan yang bergantung pada keberlanjutan wilayah pesisir dan laut.

“Sebagai perusahaan pelayaran, PELNI memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan laut dan masyarakat pesisir. Menjaga lingkungan bukan hanya bagian dari program perusahaan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Menurut Nurul, penanaman pala, pengelolaan sampah, pembangunan ruang belajar, dan pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa program TJSL dapat dirancang dengan pendekatan yang lebih menyeluruh.

PELNI berharap pola kolaborasi tersebut dapat diterapkan di wilayah lain. Program, menurut perusahaan, perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masing-masing daerah agar manfaatnya tidak bersifat sesaat.

PELNI menyatakan program TJSL perusahaan mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan dan pilar SDGs. Program itu mencakup aspek sosial, lingkungan, ekonomi, serta tata kelola hukum.

Kolaborasi bersama PNM, Bank Mandiri Taspen, dan Pegadaian di Banda Neira diharapkan menjadi model sinergi BUMN yang memberikan manfaat langsung sekaligus berjangka panjang.

PELNI saat ini mengoperasikan 84 kapal, terdiri atas 26 kapal penumpang, 30 kapal perintis, 18 kapal rede, 9 kapal tol laut, dan 1 kapal ternak. Jaringan pelayaran tersebut menjangkau berbagai wilayah kepulauan Indonesia.

Selain menjalankan fungsi transportasi dan logistik, PELNI menempatkan jaringan konektivitas laut sebagai bagian dari dukungan terhadap pemerataan pembangunan di wilayah kepulauan.

Example 120x600