ESN, Bitung – Aktivitas pematangan lahan di Kelurahan Pinokalan, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, menjadi sorotan setelah videonya beredar di media sosial dan disebut-sebut sebagai aktivitas galian C.
Menanggapi hal tersebut, pengelola lokasi, Bambang, menegaskan bahwa kegiatan yang dilakukan bukan merupakan aktivitas galian C, melainkan pekerjaan pematangan lahan.
“Izin memang belum ada. Lokasi itu merupakan pekerjaan pematangan lahan. Sebelum melakukan kegiatan, kami sudah berkoordinasi terlebih dahulu,” ujar Bambang.
Ia mengatakan, pihaknya tidak bermaksud mengabaikan aturan. Bambang bahkan menyatakan siap menghentikan kegiatan apabila ada perintah dari aparat penegak hukum (APH).
“Kalau memang diperintahkan untuk ditutup, ya kami tutup. Tetapi kami ingin menyelesaikan pembicaraan terlebih dahulu dengan pemilik lahan,” katanya.
Bambang juga menanggapi keluhan terkait abu atau debu yang disebut muncul akibat aktivitas di lokasi. Menurut dia, persoalan debu tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan kegiatan pematangan lahan tersebut.
“Soal abu kasiang, kita tahu bersama bukan hanya di Pinokalan. Hampir di seluruh wilayah Kota Bitung juga banyak abu. Itu juga dampak dari kondisi El Nino dan cuaca yang kering,” ungkapnya.
Ia juga membantah dugaan adanya pembakaran lahan yang sengaja dilakukan untuk memperluas area kegiatan.
“Untuk masalah pembakaran, kita tahu bersama bahwa sebelum kegiatan dilakukan, lokasi itu sudah terbakar. Tidak mungkin torang yang membakar hanya untuk perluasan kegiatan,” tegas Bambang.
Menurut dia, jika memang terdapat persoalan terkait kegiatan di lokasi tersebut, pihaknya terbuka terhadap penertiban sesuai aturan. Namun, Bambang berharap penertiban dilakukan secara adil dan tidak tebang pilih.
“Kalau memang harus ditutup, torang siap tutup. Tapi jangan cuma torang, harus berlaku untuk semuanya,” tegasnya.
Bambang juga meminta agar dampak terhadap para sopir angkutan material turut menjadi pertimbangan. Menurut dia, penghentian kegiatan secara tiba-tiba dapat berpengaruh terhadap mata pencaharian para sopir dan keluarga mereka.
“Kasihan juga para sopir. Kalau tidak ada muatan, istri dan anak mereka mau makan apa?” ujarnya.
Hal senada disampaikan salah seorang sopir yang ditemui di lokasi. Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan tanpa menghilangkan mata pencaharian masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan sebagai sopir angkutan material.
“Ya kasiang kalau ditutup itu lokasi, torang mau makan apa. Di lokasi bukan cuma sopir orang Bitung, bahkan ada sopir dari luar daerah yang datang mencari nafkah di Bitung,” keluhnya.
Ia berharap aparat penegak hukum dan pihak pengelola dapat mencari solusi terbaik sehingga persoalan yang muncul dapat diselesaikan tanpa mengorbankan masyarakat kecil.
“Kami meminta APH dan pengusaha mencari jalan keluar. Kalau angkutan dihentikan, kami juga butuh kepastian bagaimana nasib kami dan keluarga,” harapnya.














