Foto : Yahya Waloni.ist.
ESN.co.id – Baru-baru ini, Indonesia dihebohkan oleh meninggalnya Uztad Yahya Waloni yang dahulunya adalah seorang pendeta yang menjadi mualaf.
Pemberitaan soal kematiannya begitu masif, oleh media mainstream. Maklum, semasa hidup, dia dikenal sering berpendapat kontroversial dan terkadang menyakiti para penganut Kristen (mantan agamanya dahulu).
Karena hal tersebut, Ustad ini pernah divonis 5 bulan penjara, denda Rp 50 juta, subsider 1 bulan penjara.
Dia terbukti melakukan tindak pidana dengan sengaja tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan kepada umat Kristen (SARA).
Belakangan, ketika Ustad ini dikabarkan meninggal beragam komentar, maupun hanya sekedar memberikan emoji atas kematiannya muncul dimedia sosial.
Ada yang bernada sedih, adapula yang bernada senang, ada emoji sedih, adapula emoji tertawa.
Sebuah anomali yang seharusnya tidak perlu terjadi, ketika seseorang meninggal, apalagi yang meninggal adalah tokoh agama.
Karena biarlah apa yang pernah dia lakukan semasa hidup, akan dia pertanggung-jawabkan kepada Tuhan nanti.
Kita yang masih diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini, hendaklah memetik makna dari anomali tersebut.
Bahwa, berbuat baiklah semasa hidup dan tidak perlu menjelekkan satu dengan lainnya, agama satu dengan agama lainnya.
Ingat kata Ulama Alm. Buya Syakur Yasan yaitu : Jika bicara, bicaralah dengan niat yang baik ,jika diam, diamlah dengan niat yang baik.
Serta kata Tokoh Nahdatul Ulama, mantan Presiden RI keempat Alm. Gus Dur yaitu : Tidak penting apa agama dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua manusia, maka orang tidak pernah tanya apa agamamu.
(Mrcl)












