ESN, Bitung – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bitung mengecam keras munculnya akun palsu yang mencatut nama dan identitas wartawan Syarif Umar, yang juga tercatat sebagai anggota aktif organisasi tersebut.
Akun bernama “Sarip Umar” itu menggunakan foto milik korban dan diduga menyebarkan sejumlah konten bermuatan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Dalam unggahan terbarunya, akun tersebut bahkan menyinggung kegiatan Paskah GMIM yang dinilai berpotensi memicu konflik di tengah masyarakat.
Tak hanya mencemarkan nama baik, keberadaan akun tersebut disebut telah menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan korban. Syarif Umar mengaku menerima sejumlah ancaman pembunuhan dalam beberapa waktu terakhir.
“Bahkan rumah saya sempat dilempari batu oleh orang tak dikenal,” ujar Syarif.
Ketua PWI Kota Bitung, Tesar, menilai kasus ini bukan persoalan sepele. Ia mendesak aparat kepolisian segera bertindak untuk mengungkap pelaku di balik akun palsu tersebut.
“Ini harus segera diusut. Kami mendesak Kapolres Bitung untuk menangkap pelakunya. Jika dibiarkan, konten SARA yang disebarkan bisa memicu konflik lebih luas,” kata Tesar.
Menurut dia, kasus ini juga menjadi ujian bagi aparat penegak hukum dalam menghadapi maraknya kejahatan digital, khususnya penyalahgunaan identitas di media sosial.
“Polisi harus bergerak cepat sebelum situasi berkembang dan menimbulkan keresahan yang lebih besar di masyarakat,” ujarnya.
Syarif Umar berharap pihak kepolisian memberikan perlindungan terhadap dirinya dan keluarga. Ia menegaskan akun tersebut bukan miliknya dan seluruh konten yang beredar tidak pernah ia buat.
PWI Kota Bitung menyatakan akan terus mengawal kasus ini hingga pelaku ditangkap dan diproses sesuai hukum. Organisasi itu juga meminta kepolisian memberikan jaminan keamanan bagi korban serta menindak tegas setiap bentuk kejahatan digital yang berpotensi memecah belah masyarakat.
PWI menegaskan, penyalahgunaan identitas dan penyebaran konten bermuatan SARA merupakan pelanggaran serius yang tidak hanya merugikan individu, tetapi juga mengancam stabilitas sosial.












