Hein Arina, insert Johanes Calvin.ist.
“Jangan lawan pa yayasan, apalei pakita..jangan coba-coba,”
Kalimat bernada ancaman yang disampaikan oleh Ketua Sinode GMIM Hein Arina yang terekam vidio tersebut, tiba-tiba menjadi populer, dan banyak disebar di berbagai platform media sosial.
Hal itu terjadi menyusul ditetapkannya Hein Arina sebagai tersangka kemudian ditahan pada 17 April 2025 silam, dalam kasus dugaan penyalagunaan dana hibah Pemprov Sulawesi Utara ke Sinode GMIM.
Kalimat tersebut kemudian banyak diterjemahkan sebagai bentuk ancaman terhadap para bawahan Arina, termasuk para pendeta yang jika melawan, akan dimutasi dan bahkan tidak diberi jabatan apapun dalam lingkungan gereja.
Jika benar apa yang diterjemahkan tersebut, maka timbulnya anggapan bahwa GMIM tidak sedang baik-baik saja saat dipimpin oleh Hein Arina, bisa saja benar.
Karena merujuk pada kalimat ancaman yang dilontarkannya tersebut, publik kemudian menilai Arina akan lebih memilih mempraktekkan tradisi dan otorisasi pribadinya (suka dan tidak suka) ketimbang berdasarkan aturan (tata gereja).
Artinya, jika ada pendeta dan anggota yang sepaham, maka akan mendapatkan jabatan, dan jika ada pendeta dan anggota yang tidak sepaham dan cenderung ‘melawan’, maka akan dimutasi dan bahkan tidak diberi jabatan.
Praktek seperti ini tentu sangat menyimpang dari sumber ajaran GMIM yang selalu berpedoman pada otorisasi Alkitab, sebagaimana yang ‘diamanatkan’ Yohanes Calvin yang ajarannya dijadikan dasar teologi GMIM (Calvinis).
Calvin menekankan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu dan memiliki kekuasaan mutlak atas segala hal.
Itulah yang harusnya dipraktekkan oleh Arina saat membuat keputusan ataupun kebijakan, yang harus selalu berlandaskan atas Kasih Allah, bukan berdasarkan interest pribadi.
Karena oleh ‘kemahakuasaannya’ itu, banyak orang (warga GMIM), yang pada akhirnya menganggap Arina adalah sosok Kepala Gereja, dan memiliki otorisasi tertinggi dalam urusan agama, sehingga harus dipatuhi bahkan dibela sekalipun apa yang dia lakukan salah.
Tidak heran, saat Arina dipenjara, masih banyak warga GMIM termasuk para pendeta yang justru membelanya mati-matian dan bahkan menentang keinginan sejumlah pihak, agar Arina segera mundur dari jabatannya sebagai Ketua Sinode GMIM.
Mereka atau bahkan Arina mungkin lupa bahwa penolakan terhadap otoritas seperti itu (Paus), juga turut disuarakan oleh Yohanes Calvin termasuk Marthin Luther.
Keduanya dengan tegas menolak ajaran Paus sebagai kepala gereja dan memiliki otoritas tertinggi dalam urusan agama.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita sebagai warga GMIM berbenah dan sadar bahwa, tidak hanya bagi Calvin, tapi bagi orang kristen termasuk warga GMIM, Kepala Gereja yang sesungguhnya adalah Yesus Kristus.
Kita juga harus berharap, jika pada saatnya nanti, apabila GMIM akan memilih pemimpin baru kelak, maka dia haruslah benar-benar orang yang bisa mempraktekkan teladan Kepala Gereja yang sesungguhnya, berlandaskan kasih.
(Redaksi)












