ESN, Manado – Di tengah gejolak perekonomian global yang kian dinamis, Sulawesi Utara menampilkan ketahanan ekonomi yang patut dicatat. Pada kuartal I 2025, ekonomi provinsi ujung utara Sulawesi itu tumbuh impresif sebesar 5,62 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui rata-rata nasional yang berada di level 4,87 persen.
Kondisi ini tercapai meski ketidakpastian global masih membayangi. Perang dagang antara Amerika Serikat dan sejumlah negara mitra dagangnya memang menunjukkan tanda-tanda pelonggaran seperti kesepakatan dagang dengan Inggris dan penundaan tarif impor dengan Tiongkok. Namun, arah kebijakan perdagangan AS dinilai masih fluktuatif. Bank Sentral AS, The Fed, juga menahan suku bunga di level 4,25–4,50 persen, sementara ekonomi AS sendiri melambat dari 2,5 persen di Q1 2024 menjadi hanya 2,0 persen di kuartal yang sama tahun ini.
Dari dalam negeri, ekonomi Indonesia masih menorehkan kinerja positif. Beberapa sektor mencatatkan pertumbuhan solid: pertanian tumbuh 10,52 persen, perdagangan 5,03 persen, manufaktur 4,55 persen, dan transportasi melonjak hingga 9,01 persen. Inflasi April 2025 terkendali pada 1,95 persen (yoy), sementara indeks keyakinan konsumen meningkat menjadi 121,7 pertanda optimisme masyarakat yang terus menguat.
Khusus di Sulawesi Utara, ada tiga motor utama yang mengerek pertumbuhan ekonomi. Pertama, efektivitas kebijakan pemerintah pusat dan daerah. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran dan implementasi program Manfaat Berbasis Gender (MBG) sejak Januari memberi dampak langsung terhadap belanja masyarakat. Diskon tarif listrik serta insentif tiket pesawat selama libur Lebaran juga memperkuat daya beli warga.
Kedua, melonjaknya mobilitas dan produksi. Produksi padi dan jagung meningkat berkat panen raya, diikuti kinerja positif sektor perikanan dan perkebunan. Jumlah penumpang laut naik 7,26 persen, dan udara 2,15 persen.
Ketiga, konsumsi rumah tangga tetap solid. Kredit konsumsi tumbuh 8,79 persen, sementara inflasi di Sulawesi Utara pada April 2025 tercatat 2,27 persen yoy. Meski ada tekanan dari harga komoditas seperti cabai rawit, emas, dan ikan laut, kestabilan harga relatif terjaga.
Di balik capaian ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memainkan peran sentral. Selain menjadi peredam (shock absorber) tekanan global, APBN berfungsi sebagai katalisator pertumbuhan di daerah. Hingga 30 April 2025, pendapatan APBN di Sulawesi Utara telah mencapai Rp1,475 triliun atau 28,59 persen dari target.
Realisasi penerimaan pajak mencapai Rp888,9 miliar (24,5%), bea dan cukai Rp43,14 miliar (76,76%), dan PNBP sebesar Rp471,38 miliar (31,93%).
Di sisi belanja, realisasi sudah menyentuh angka Rp5,97 triliun atau 26,7 persen dari pagu. Rincian belanja meliputi belanja pegawai (Rp1,17 triliun), barang (Rp632,43 miliar), modal (Rp55,16 miliar), dan bantuan sosial (Rp12,86 miliar). Selain itu, transfer ke daerah telah tersalur sebesar Rp4,09 triliun atau 30,3 persen dari pagu.
Jenis transfer terbesar adalah Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp3,08 triliun, diikuti Dana Desa (Rp327,42 miliar), Dana Alokasi Khusus Non-Fisik (Rp469,87 miliar), dan Dana Bagi Hasil (Rp188,84 miliar).
Seiring dengan upaya konsolidasi fiskal dan sinergi antarlembaga, pemerintah optimistis peran APBN akan terus mengokohkan pondasi pertumbuhan Sulawesi Utara sepanjang tahun 2025.
“APBN bukan sekadar instrumen anggaran, tapi menjadi perisai dalam badai global,” ujar Kepala Kanwil DJPb Sulawesi Utara, dalam keterangannya di Manado.












